Merinding di Muzium Diraja (Istana Negara Lama) Malaysia

Merinding di Muzium Diraja (Istana Negara Lama) Malaysia
Muzium Diraja Malaysia ini termasuk dalam tujuan wisata saya bersama Mbak R ke Malaysia akhir tahun lalu.

Sebagai orang yang kurang suka pergi ke museum, saya sebenernya ogah-ogahan ketika Mbak R mengajak saya ke Muzium Diraja ini. Tapi Mbak R  sangat penasaran karena hari sebelumnya kami sudah datang ke istana negara baru yang ternyata istana itu tidak dibuka untuk umum. Padahal pengen tahu isi istana itu seperti apa. Akhirnya ada kawan yang menyarankan untuk pergi ke istana lama saja dimana kami bisa masuk ke dalamnya karena sekarang sudah difungsikan untuk museum.

Baca juga: Plesir ke Malaysia Bersama Mbak R - Hari ke-2

Siang itu kami jajan enak di The Hyacinth Café sambil menunggu redanya hujan maha deras yang mengguyur Kuala Lumpur. Setelah perut kenyang dan hujan reda, kami pesan grab menuju Muzium Diraja alias Istana Negara Lama di Jalan Istana.

Sesampainya di Muzium DIraja, kami beli tiket di loket yang ada di gerbang masuk istana. Tiket masuk untuk wisatawan asing dewasa seperti kami adalah RM 10.00 atau sekitar 35.000 Rupiah. Setelah itu kami menuju jalan yang panjang dan menanjak untuk menuju ke bangunan istana. Lumayan juga nih jalannya bisa buat membakar lemak yang bergelantungan di badan kami, sambil menikmati semilir angin sejuk selepas hujan. Sebelah kiri ada kebon yang luas semacam 'hutan kota', sebelah kanan ada lapangan untuk upacara kerajaan jaman dulu. Oia, bangunan istana ini ada di jantung Kota Kuala Lumpur, di atas bukit yang bernama Bukit Petaling, makanya jalan masuk menuju istana sedikit nanjak. Bukitnya kecil doang sih, jadi jangan kuatir ngos-ngosan.


Merinding di Muzium Diraja (Istana Negara Lama) Malaysia
jalan antara gerbang dan bangunan istana

Sesampainya di bangunan utama istana, suasananya agak gloomy dan sepi banget. Mungkin karena hari kerja dan jam kerja. Hanya ada sepasang bule yang baru keluar dan petugas yang lagi ngantuk.
Kami kemudian menunjukkan tiket yang sudah kami beli di bawah tadi kepada petugas dan dipersilakan masuk dengan melepas alas kaki terlebih dahulu serta menyimpannya di rak yang sudah disediakan. Kami juga diingatkan untuk tidak boleh memotret dan memvideo selama di dalam nanti.

Begitu masuk ke dalam istana....
Wew, serasa masuk ke dalam lorong waktu masa lalu.

Baca jugaPlesir ke Malaysia Bersama Mbak R - Hari ke-1

Muzium Diraja ini adalah Istana Lama tempat tinggal Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong dan Seri Paduka Baginda Raja Permaisuri Agong sejak tahun 1957 sampai dengan 2011. Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong ke XIII adalah yang terakhir menempatinya. Selama aktif digunakan sebagai tentara, istana negara ini tertutup untuk umum dan dijaga oleh pasukan berkuda.
Pada 15 November 2011 istana negara resmi berpindah tempat ke Jalan Duta Kuala Lumpur diawali dengan penobatan Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong ke XIV. Istana lama kemudian dibuka untuk umum sebagai museum mulai 1 Februari 2013.

Dalam kompleks istana negara ini ada bangunan utama yang berfungsi sebagai istana negara, ada Balairung Seri (semacam ballroom), lapangan, kolam renang, taman, kebon, kantor polisi, kantor administrasi, pos penjagaan, lapangan olah raga, danau buatan, air mancur, dll layaknya sebuah kompleks istana negara.

Namun sejarah bangunan istana negara ini tidak berawal dari 1957.

Berada di lahan sebesar 11,34 hektar, bangunan istana negara dulunya adalah rumah pribadi taipan asal Guangdong Cina bernama Chang Wing yang merupakan pengembang tambang timah Hong Fatt yang sekarang menjadi The Mines. 
Bangunannya bergaya Palladian dibangun pada tahun 1928-1933 dengan arsitek dari Swan & Mac Laren Singapura dan merupakan bangunan paling besar dan mewah pada jamannya. Memiliki 13 kamar dan cukup ramai karena oleh ditinggali keluarga Chang Wing yang mempunyai segambreng istri dan anak.
Namun Chang Wing harus melarikan diri dari tanah Melayu saat Jepang masuk dan berkuasa di Malaya.  Karena letaknya yang strategis, rumah Chang Wing ini kemudian dijadikan mess pegawai tentara Jepang antara tahun 1942 sampai 1945 dan kemudian diambil alih oleh British Military Administration (BMA) untuk digunakan sebagai mess tentara Angkatan Udara Diraja selepas Perang Dunia II berakhir. 

Pada tahun 1950 seiring dengan dibentuknya Federasi Malaya, bangunan ini disewa oleh Pemerintah Negara Bagian Selangor sebagai istana sementara Sultan Selangor sampai dengan kemerdekaan Melaya menjadi Malaysia tahun 1957. Bagunan ini kemudian dibeli oleh Pemerintah Negara Bagian dan direnovasi dengan pengawasan arsitek E. K. Dinsdale yang menghabiskan biaya RM 328.000 untuk dijadikan sebagai Istana Negara Kediaman Yang di-Pertuan Agong hingga tahun 2011.


Merinding di Muzium Diraja (Istana Negara Lama) Malaysia
bangunan istana negara didominasi warna putih dan warna khas kerajaan: kuning dan emas

Dilihat dari tahun pembangunannya, istana ini sungguhlah tuwek banget meskipun tidak setuwek Lawang Sewu di Semarang.

Saat kami mulai memasuki bangunan utama dan mengikuti petunjuk arah ke sisi bangunan sebelah kiri, ada ruangan-ruangan tempat raja menerima tamu, ruangan rapat, trus ruangan entah apa lagi saya lupa. Semua ruangan lengkap dengan mebel-mebelnya. Di lantai 1 ini suasananya masih 'terang' meski kesan 'lembab' mulai terasa. Mungkin karena habis hujan dikombinasikan dengan bangunan serta barang-barang tua. Oia, karena ini istana, sudah pasti interiornya bagus dan mewah layaknya istana pada umumnya ya. Cuma sayangnya nggak boleh difoto.

Baca juga: Menghabiskan Akhir Pekan di Kuala Lumpur

Kemudian kami menaiki tangga menuju lantai 2, mengikuti petunjuk arah. Di lantai 2 ini suasana makin agak creepy kriuk-kriuk gitu. Ada ruangan istirahat raja, ruang apa lagi ya, saya sampai lupa. 
Kami jalan lagi menuju lorong yang kanan kirinya adalah kamar tidur raja dan kamar tidur lainnya. Di bagian ini saya mulai ngerasa hawa-hawa nggak enak. Leher udah mulai berat. Mood saya buat baca-baca keterangan di setiap ruangan pun mulai pudar berganti dengan baca-baca Ayat Kursi. Mbak R pun mukanya udah berubah jadi mengkeret menuju pucet dan kami pun saling berpandangan. Entah hawa apa yang merasuki kami berdua.

Tanpa dikomando, kami berdua langsung ngibrit menuju tangga turun dalam waktu sesingkat-singkatnya dan ngacir keluar dari bangunan ini sambil merinding disko. 
Padahal masih banyak bagian yang belum kami lihat, terutama Balairong Seri yang merupakan blok bangunan baru (dibangun tahun 1980) di sayap kiri bangunan utama. Balairung Seri ini adalah tempat dilangsungkannya upacara kenegaraan. Di dalam Balairong Seri ini kita boleh foto-foto. 
Tapi sayangnya kami udah lelah jaya dan nggak mood lagi. Rasanya pengen segera menghirup udara segar di luar.


Merinding di Muzium Diraja (Istana Negara Lama) Malaysia
pintu gerbang istana negara lama (Muzium Diraja)

Duh, entah kenapa kok tempat ini jadi horor bagi kami. Padahal kami nggak bisa melihat hal-hal begituan, apalagi saya ini orangnya sangat tidak sensitif buat mengendus dunia ghaib. 
Mungkin karena sepi pengunjung dan pencahayaan yang tidak terang banget serta ditunjang dengan tuanya bangunan dan kelembaban cuaca setelah hujan, membuat tempat ini jadi terasa spooky trilili.


Merinding di Muzium Diraja (Istana Negara Lama) Malaysia
aturan yang harus ditaati ketika masuk Muzium Diraja

Tapi tentu saja ini hanya pengalaman saya ya, teman....
Belum tentu pegalaman ini terjadi juga pada kalian.
Kalau kalian mau datang ke museum ini amat dipersilakan. Bagaimanapun juga tempat ini bagus dan kaya akan sejarah dan ilmu pengetahuan.
Tapi baiknya sih kesini pakai tour dan datang di hari libur supaya rame. hihihi

Baca juga: Mengunjungi Muzium Kesenian Islam di Kuala Lumpur


Muzium Diraja (Royal Museum) Malaysia
buka setiap hari, pukul 9.00 pagi - 5.00 petang
Tutup pada hari pertama Idul Fitri dan hari raya Idul Adha

15 komentar

  1. Kalau saya malah suka ke musium. Apalagi kalau musiumnya baguus seperti muzium diraja ini. Semoga kelak bisa jalan jalan menjelajah negeri jiran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau museumnya terang benderang saya suka, mbak. hehehe
      InsyaAllah semoga mbak Dewi bisa sampai ke negeri jiran dan menjelajahi museum-museumnya ya....

      Delete
  2. Saya malah penggemar museum, Kak. Di mana-mana pasti mengejar museum. Tapi saya ke Kuala Lumpur nggak pernah ke Museum karena waktunya selalu mepet dan ada kegiatan kantor. Dari luar bangunannya cantik. Kapan-kapan kalau ada rejeki liburan ke Kuala Lumpur, boleh deh nyobain ke situ. Tapi ada nuansa horor? Hmm ... mungkin itu kebetulan aja ya. Kalau emang serem, pastinya sudah ditutup oleh manajemen gedungnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nuansa horor cuma kebetulan aja kok mbak. Soalnya aku kesitu pas sepi banget dan lembab habis hujan. hehehe

      Delete
    2. Oh... itulah sebabnya. Kalau datang rombongan besar, mungkin biasa aja ya.

      Delete
  3. Mmm serem juga ya mba, sepi sepi ke bangunan tua. Untung belum nengok atau dengar apa apa ya kan mba 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah nggak lihat dan denger apa-apa yang mencurigakan sih. hihihi
      kalau hari libur museum ini rame wisatawan kok mbak :)

      Delete
  4. Baru tau gw ada museum beginian di Malaysia. Yah besok lah kalo main ke sono bisa mampir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ibarat istana bogor yang dijadiin museum dibuka untuk umum gitu lah yes...
      silakan mampir kalo ke KL

      Delete
  5. Kayaknya rata-rata museum pasti berasa spooky tralala trilili ya xD
    Mungkin karena bangunannya udah tua yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, ya.... rata-rata museum spooky :))
      selain bangunan tua, barang-barangnya juga tua, pencahayaannya kurang terang benderang, sepi pula. hiiiii

      Delete
  6. Waaah...kereen, travelling ke Malaysia. Selalin bisa jalan jalan ada pengalaman dan ilmu sejarahnya kalau yang kita kunjungi itu museum kayak gini, nice share mbak...thanks.

    ReplyDelete
  7. Apakah tiket masuknya terjangkau? Dan apakah ada perbedaan harga tiket antara turis asing dengan lokal?

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo, mbak Intan,
      tiket masuknya sangat terjangkau kok untuk turis mancanegara. hanya RM 10 atau sekitar 35 - 36 ribu rupiah aja (tergantung kurs).
      ada perbedaan harga tiket, mbak.
      tentu saja tiket untuk wisatawan lokal, anak-anak, lansia, dan pelajar lebih murah.

      Delete

Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.