Hampir Kelelep Saat Nyeberang Dari Gili Trawangan

Gili Trawangan

Alkisah pada suatu hari tahun 2011 yang lalu, saya dapat perjalanan dinas ke Mataram - Lombok 3 hari bersama 2 ekor bapak-bapak. Hari pertama kami habiskan dengan bekerja. Lha yo namanya juga perjalanan dinas, pasti yang diutamakan adalah kerjaan, sekalipun pekerjaan itu tidak boleh mengganggu acara jalan-jalan.


Hari kedua kami masih menyelesaikan pekerjaan sampai selesai menjelang siang.
Alih-alih balik ke hotel, kami bertiga meminta ke sopir untuk diantar jalan-jalan.
Pak sopir pun memboyong kami menuju ke Desa Sade, Pantai Kuta dan Tanjung Aan. Menjelang senja kami pindah ke Pantai Senggigi ambil foto sambil menikmati indahnya matahari tenggelam di ufuk Barat.
Di Pantai Senggigi itu kami terpikir mau jalan-jalan ke mana esok hari. Soalnya penerbangan balik ke Jakarta jam 5 sore. Jangan sampai cuma glundang-glundung di hotel doang dan cuma keluar pas makan siang.
pantai kuta lombok

Salah satu bapak, sebut saja Pak Terigu (bukan nama sebenarnya) pengen ke Gili Trawangan. Saya juga pengen sih, soalnya waktu itu belum pernah nyeberang ke Gili. Bapak satunya sebut saja Pak Tapioka (nama disamarkan) manut bae mau dibawa ke mana.

Pak Terigu kemudian bertanya ke pak sopir, kira-kira waktunya cukup nggak kalau ke Gili Trawangan dalam waktu sesingkat itu. Kata pak sopir sih bisa aja asal berangkatnya pagi dan di gilinya nggak lama-lama. "Nggak apa-apa lah yang penting sudah menginjakkan kaki di Gili Trawangan", ujar Pak Terigu.
Okelah kalau begitu.

Baca jugaEscape ke White Sand Island

Esok hari setelah sarapan pagi kami check out dari hotel hampir jam 8:30. Nggak pagi-pagi amat sebenernya. Kami langsung cus ke Pelabuhan Bangsal Pemenang via Jalan Raya Senggigi. Sampai di pelabuhan, Pak Terigu langsung menuju ke loket buat beli tiket. Karena kami cuma bertiga, maka kami akan nyeberang naik kapal kayu bersama penumpang lain dan tiketnya dihitung per gundul, waktu itu cuma sepuluh ribu. Murah meriah. Tapi kapal ini baru akan berangkat jika penumpangnya minimal sudah sejumlah 35 orang (kalau nggak salah, aku lali). Walhasil kami harus menunggu penumpang kapal berdatangan. Apesnya sudah sekitar setengah jam tuh penumpang nggak nambah-nambah. Waduh, mesti nunggu berapa lama lagi ini, secara kami kan pikniknya harus buru-buru.
Pak Terigu yang sudah tidak sabar pun nyamperin ke loket nanyain masih kurang berapa penumpang. Ternyata masih kurang 5 lagi. Akhirnya Pak Terigu berinisiatif membayar lima puluh ribu buat nutupin kekurangan 5 penumpang supaya kapal bisa berlayar saat itu juga tanpa harus memenuhi kuota minimal 35 orang.

Alhamdulillah kapal pun akhirnya berlayar juga meninggalkan Bangsal Pemenang menuju ke Gili Trawangan. Kapal kayu ini berisi kami bertiga bersama orang-orang lokal, turis bule, turis domestik, berkeranjang-keranjang sayur mayur dan telur lengkap dengan pedagangnya, jerigen-jerigen, dan ransel-ransel para backpacker. Rame hore pokoknya.
gili trawangan

Sampai di Gili trawangan, kami langsung keliling jalan kaki menikmati indahnya pantai pasir putih dan laut dengan warna yang bergradasi sambil ambil foto. Banyak bule-bule yang lagi berjemur dengan pakaian minimalis, juga mbok-mbok pedagang Sate Bulayak yang satenya seakan ngawe-awe untuk dibeli.
Saya nggak kuat menahan godaan lambaian si Sate Bulayak yang menggiurkan dan berakhir memesan satu porsi sambil makan di pantai, tambah beli Sate Pusut pula. Anggep aja sekalian makan siang.
Kenyang makan sate, ngaso sebentar. Matahari pun sudah mulai terik dan agak geser ke Barat. Pak Terigu sudah mengajak ke loket buat beli tiket kapal balik ke daratan.
Bhaiquelah.
Kami pun berjalan kembali ke dermaga kapal. Beli karcis dan nunggu perahu berangkat.
Kami naik kapal kayu rame-rame bersama penumpang lain seperti berangkat tadi. Kali ini nggak bareng sama sayuran, melainkan sama jerigen-jerigen kosong yang siap diisi ulang di daratan nanti.

Baca jugaPasar Inpres Kebun Sayur Balikpapan

Penyeberangan pulang ini agak horor dan butuh waktu lebih lama daripada saat berangkat karena menjelang sore gelombang lautnya besar. Kami terombang ambing di lautan lumayan lama. Air laut udah pada masuk ke kapal. Segerombolan penumpang berjenis emak-emak yang sepertinya wisatawan grup arisan sudah mulai teriak-teriak histeris ketakutan karena kapal sudah oleng ke kanan dan kiri dihantam gelombang. Kru kapal juga sibuk ngurasin air yang masuk ke kapal dan membagi jaket pelampung ke penumpang.
Duh rasane koyo meh kelelep, mana saya nggak bisa berenang. Pak Terigu dan Pak Tapioka juga udah pucat pasi. Saya cuma bisa berdoa supaya kapal ini nggak kandas, saya nggak kelelep, dan saya nggak ketinggalan pesawat balik ke Jakarta.

Setelah sekian lama terombang ambing di lautan dan hampir basah kuyup kecipratan air, alhamdulillah akhirnya sampai juga di Pelabuan Bangsal Pemenang. Kami langsung ngibrit ke mobil dan tancap gas ke bandara. Waktu itu bandara masih di Selaparang dan merupakan hari terakhir Bandara Selaparang beroperasi untuk umum. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore, padahal pesawat terbang jam 5 sore. Pak sopir nginjek gas udah kayak ikut balapan F1 ambil jalan lewat Puncak Pusuk menuju Selaparang.

Baca juga: Jalan-Jalan ke Candi Muara Takus

Sampai di bandara ternyata pesawatnya delay dong sodara-sodara. Delaynya 2 jam kalau nggak salah. Kami dapet kompensasi nasi kotak gratis lauknya ayam.
Ya Allah... paringono sabar...  Udah buru-buru taunya delayed.
Tapi nggak apa-apa, tetap bersyukur alhamdulillah, nggak ketinggalan pesawat dan Allah masih memberi keselamatan.


2 komentar

  1. Wah, itu tuh seremnya kalau wisata ke Pulau dengan waktu terbatas. Kalau terjadi sesuatu, bisa hangus tiket dan biaya yang sudah dikeluarkan. Untung lho, Mbak, pesawat delay. Jadi masih sempat atur nafas sebelum masuk pesawat.

    ReplyDelete
  2. Mbak, sampean kok koyone slebor yah, hahahaha

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.
Mohon untuk tidak menyertakan link hidup, ya...
thanks,