Pengalaman Menginap di Hotel Orang Yahudi [Palestina]

by - Friday, August 03, 2018

Mengunjungi Palestina mau tidak mau saya harus mengikuti aturan yang sedang berlaku pada saat itu. FYI, peraturan yang diterapkan penjajah israel selalu berganti-ganti seenak udelnya. 


Sebagai negeri yang terjajah oleh zionis israel laknatullah, perekonomian di Palestina sengaja 'dimatikan' oleh penjajah israel. Salah satu kebijakan yang saat itu sedang berlaku ketika saya datang adalah dengan melarang rombongan wisatawan yang masuk Palestina menginap di hotel milik orang Palestina. Akibatnya saat itu saya harus menginap di hotel milik orang Yahudi yang letaknya di daerah Ein Karem Kota Jerusalem, agak jauh dari kompleks Al-Aqsha.

Karena ini hotel milik orang Yahudi maka banyak orang Yahudi bersliweran di dalamnya. Biasanya orang yahudi memakai topi kecil bundar yang ditempel di kepalanya, disebut kippah atau yarmulke, berwarna hitam atau putih. Topi itu dipercaya untuk menjaga kesucian, karena menurut mereka surga ada di atas. Ajaibnya, topi kecil seuprit itu nggak melorot apalagi jatuh, sebab ternyata mereka memakai jepitan rambut bocah untuk menjepit topi itu di kepala. Ada juga orang Yahudi yang berpakaian jas hitam, dengan topi hitam bulu-bulu bunder gede dan tinggi macam pot bunga, ada juga yang pakai semacam topi koboy warna hitam. Di dalam topi-topi itu mereka tetep pakai kippah. Semua mencerminkan aliran agamanya, seperti Modern, Reform, Ortodoks, Konservatif, Zionism, dll. 
FYI, Yahudi itu bisa berarti suku (Jew) bisa juga berarti agama (Judaism). Tidak semua orang (suku) Yahudi beragama Yahudi. Biar nggak mumet dan salah kaprah tentang sejarah Yahudi ini, silakan dengerin pengajiannya babe Haikal Hassan yang banyak beredar di youtube.
orang yahudi ortodoks
Restoran di hotel milik orang Yahudi menerapkan makanan halal ala Yahudi yang disebut kosher. Aturan kosher ini mirip dengan aturan halal di Islam, tapi agak lebih ribet meskipun sama-sama tidak boleh makan babi. 
Halal tidak selalu kosher dan kosher belum tentu halal.
Daging dan susu tidak boleh dicampur dan tidak boleh dimakan bersama. Alat masak dan tempat penyimpanannya pun harus dipisah. Kalau mereka habis makan daging dan pengen minum susu, harus nunggu 6 jam dulu, biar nanti di perut si daging dan susu nggak nyampur.
Menu sarapan di hotel pun menyesuaikan cara kosher. Hanya ada roti, telur, salad, dan susu. Nggak ada keluarga sosis yang mengandung daging. Kita pun dilarang membawa makanan dari luar ke dalam restoran hotel karena dianggap bisa mencemari kosher.

Hari Sabat (Sabtu) adalah hari liburnya agama Yahudi. Dimulai dari terbenamnya matari di hari Jum'at sampai Sabtu malam. Hukum hari Sabat pun tak kalah ribetnya. 
Selain tidak boleh bekerja, mereka juga tidak boleh memasak, mengoperasikan segala sesuatu yang menggunakan mesin seperti memakai komputer, memencet tombol lift, naik mobil, dsb. 
Biasanya pegawai hotel di bagian resepsionis (yang harus selalu stand by dengan komputer dan peralatan bermesin lainnya) adalah orang yang bukan beragama Yahudi. Sehingga hotel masih tetap beroperasi seperti biasa.
jalanan lengang di hari sabat
Di hari Sabat, makanan yang tersaji di restoran hotel dingin bin anyep semua, karena sudah dimasak di hari sebelumnya.  Berhubung mereka juga nggak boleh mengoperasikan mesin termasuk memencet tombol di lift, nggak mungkin juga kan mereka mau naik tangga kalau kamarnya ada di lantai limolas? bisa pengsan. Nah, hotel menyediakan satu lift khusus yang disebut "shabbat elevator" alias lift yang otomatis ngebuka tutup sendiri dan akan berhenti di tiap lantai tanpa harus dipencet tombolnya. Lift ini bener-bener hanya beroperasi di hari Sabat aja. Hari biasa dia mejen. 
Jalanan di kawasan Yahudi pun sepi nyenyet paling cuma ada beberapa gelintir orang lewat atau kendaraan yang lewat selain bus pariwisata yang biasanya disopirin sama orang yang bukan beragama yahudi.









You May Also Like

4 komentar

  1. yaelah ribet banget ya aturan orang Yahudi, aku bacanya gemes loh rasa pengen ngebisikin orang2 Palestina gitu 'Woi, serang tuh Israel di hari sabtu', btw nggak diliatin nih mba bentuk hotelnya kayak apa, penasarn loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mbak... ribet banget dah pokoknya.
      bentuk hotelnya sih biasa aja, seperti hotel-hotel lainnya.
      dan semua hotel di kawasan yahudi & yang dimiliki orang yahudi pasti menerapkan hal yang sama, apapun bentuk hotelnya :)

      Delete
  2. Ke Palestina ini ngurus visanya gmn? ada rencana juga tahun depan mau ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ke Palestina harus mengurus visa israel, mbak Rahma.
      sebab Palestina masih diblokade oleh penjajah, jadi keluar masuk Palestina harus lewat otoritas pihak penjajah (israel).

      karena saya kemarin dalam rangka umrah lanjutan ke Aqsha, jadi pengurusan visanya sekalian dari travel biro umroh.

      mengurus visa israel agak susah kalau tanpa travel agent, karena harus dilakukan di kedutaan israel di Singapura, karena Indonesia tidak memiliki kerjasama diplomatik dengan isarel.
      visa harus diurus 30-40 hari sebelum hari keberangkatan, dan kita harus 2x bolak bailk ke Singapura untuk menyerahkan berkas dan untuk mengambilnya jika visa kita diapprove.
      lebih sulitnya lagi, kita wajib melampirkan surat sponsor/invitation letter dari perusahaan/travel agent lokal yang bertanggungjawab di israel.

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar :)