Bisa Beli Rumah dan Mobil, Tapi Menunda Daftar Haji? Jangan Sampai Menyesal Saat Sudah Ingin Berangkat
Daftar Haji Itu Soal Prioritas, Bukan Sekadar Kemampuan
“Kalau haji sih pengen, tapi belum mampu.”Kalimat ini sering kita dengar. Bahkan mungkin pernah kita ucapkan sendiri.
Menariknya, orang yang merasa "belum mampu" untuk mendaftar haji kadang sudah mampu membeli rumah, mengganti mobil, merenovasi dapur, membeli gawai terbaru, atau rutin staycation dan liburan ke berbagai tempat. Bukan berarti semua itu salah. Rumah memang kebutuhan. Kendaraan juga penting. Rekreasi pun ada manfaatnya.
Masalahnya, sering kali haji ditempatkan di urutan paling belakang dalam daftar prioritas hidup.
Kalau ada uang, dipakai untuk yang lain dulu.
Kalau ada rezeki lebih, nanti saja pikir-pikir daftar hajinya.
Kalau ada bonus, masih banyak kebutuhan yang dianggap lebih mendesak.
Padahal biaya pendaftaran haji bukan biaya keberangkatan penuh. Yang diperlukan hanyalah setoran awal untuk mendapatkan nomor porsi. Setelah itu, keberangkatannya masih bertahun-tahun lagi.
Justru karena antreannya panjang, keputusan terbaik sering kali bukan "berangkat sekarang", melainkan "daftar sekarang".
Baca juga: Skill Tambahan yang Berguna bagi Jamaah Haji
Merasa Belum Mampu, Atau Belum Memprioritaskan?
Coba perhatikan.Ada orang yang selama bertahun-tahun berkata belum mampu daftar haji. Namun dalam rentang waktu yang sama berhasil mencicil rumah, membeli kendaraan, menyekolahkan anak di sekolah mahal, bahkan sesekali berwisata.
Artinya apa?
Bukan tidak mampu sama sekali. Bisa jadi haji belum masuk dalam prioritas utama di hidupnya.
Dalam urusan keuangan, kita sebenarnya selalu menunjukkan apa yang paling penting bagi kita. Uang biasanya mengalir ke hal-hal yang kita anggap prioritas.
Kalau rumah dianggap penting, kita akan mencari cara untuk memiliki rumah.
Kalau kendaraan dianggap penting, kita akan mengusahakannya.
Bukan menunggu sampai semuanya sempurna.
Karena dalam kenyataannya, hidup hampir tidak pernah benar-benar sempurna.
"Nanti Saja Kalau Sudah Pengen"
"Sekarang belum kepikiran buat haji."
"Masih muda."
"Nanti kalau sudah pensiun saja."
Sekilas terdengar masuk akal.
Tetapi ada masalah yang sering tidak disadari: keinginan seseorang bisa berubah jauh lebih cepat daripada antrean haji.
Hari ini mungkin belum terlalu tertarik.
Lima tahun lagi mulai sering ikut pengajian.
Sepuluh tahun lagi mulai melihat teman-teman yang berangkat ke Tanah Suci.
Lima belas tahun lagi mulai muncul keinginan yang kuat untuk menjadi tamu Allah.
Lalu ketika benar-benar ingin berangkat, barulah sadar bahwa masa tunggu haji reguler di banyak daerah sudah sangat panjang. Bahkan haji khusus pun bisa 5-7 tahun antrenya dengan biaya yang relatif mahal.
Saat itulah kalimat penyesalan sering muncul:
"Andai dulu saya daftar haji waktu masih muda..."
Ketika Keinginan Datang, Usia Sudah Tak Lagi Muda
Ada hal lain yang jarang dipikirkan.Menunda pendaftaran berarti menunda usia keberangkatan.
Padahal ibadah haji bukan hanya soal biaya, tetapi juga soal fisik.
Tawaf dan sa'i membutuhkan tenaga.
Lempar jumrah pun membutuhkan tenaga.
Perjalanan panjang, cuaca panas dan kering, keramaian jutaan manusia, semuanya membutuhkan kondisi tubuh yang cukup prima.
Banyak orang yang ketika muda merasa belum perlu daftar haji.
Ketika akhirnya mendapat panggilan hati untuk berhaji, usia sudah lanjut, lutut mulai bermasalah, tekanan darah tidak stabil, atau stamina tidak lagi seperti dulu.
Meski akhirnya mereka berangkat dan insya Allah tetap mendapatkan pahala yang besar. Namun tidak sedikit yang berkata:
"Kalau bisa mengulang waktu, saya ingin berangkat saat masih muda dan badan masih sehat."
Sayangnya, waktu tidak bisa diputar kembali.
Daftar Dulu, Berangkat Belakangan
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap mendaftar haji berarti harus segera berangkat.Padahal tidak demikian.
Mendaftar haji hari ini bukan berarti berangkat tahun ini.
Justru karena antreannya panjang, pendaftaran hari ini adalah investasi untuk diri kita di masa depan.
Ibarat menanam pohon, hasilnya tidak bisa dinikmati seketika. Pohon perlu waktu untuk tumbuh dan berbuah. Karena itu, semakin cepat ditanam, semakin cepat pula kita bisa memetik hasilnya.
Begitu pula nomor porsi haji.
Semakin cepat didapatkan, semakin cepat pula antrean berjalan.
Jadi, Kapan Waktu Terbaik untuk Daftar Haji?
Jawabannya sederhana:As Soon As Possible. Secepatnya.
Bukan saat semua urusan dunia selesai.
Bukan saat semua target keuangan tercapai.
Bukan saat usia sudah pensiun.
Karena tidak ada yang tahu kapan hati akan benar-benar tergerak untuk datang ke Baitullah, tidak ada yang tahu bagaimana kondisi kesehatan kita beberapa puluh tahun ke depan, dan tidak ada yang tahu sepanjang apa umur kita.
















0 komentar
Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.
Mohon untuk tidak menyertakan link hidup, ya...
thanks,