Selingkuh Itu Pilihan

 


Ada satu hal yang sering dibuat terlalu rumit ketika membicarakan perselingkuhan.  Mengapa seseorang selingkuh? 
Jawabannya sebenarnya sederhana: karena dia mau. 
Dia mau membuka percakapan yang seharusnya tidak perlu dibuka, membalas pesan yang sebenarnya bisa diabaikan, memberi ruang kepada orang ketiga, menyembunyikan komunikasi dari pasangan, bertemu diam-diam, lalu melewati batas. Perselingkuhan bukan terjadi karena seseorang tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk memilih. Perselingkuhan terjadi karena seseorang memilih untuk melakukannya.

Kita sering terlalu sibuk mencari alasan sampai lupa membedakan antara alasan dan pilihan. Pasangan kurang perhatian, hubungan sedang bermasalah, rumah tangga terasa membosankan, kebutuhan tidak terpenuhi, merasa tidak dihargai, atau bertemu seseorang yang dianggap lebih menarik dan lebih memahami diri kita memang bisa menjadi masalah dalam sebuah hubungan. Namun, semua itu tidak otomatis membuat seseorang berselingkuh. Banyak orang pernah merasa kesepian, kecewa, bosan, bahkan tidak bahagia dalam hubungan, tetapi tetap memilih untuk tidak mengkhianati pasangannya.

Sebab selalu ada pilihan lain. Ketika hubungan tidak lagi baik, masalah bisa dibicarakan. Ketika kebutuhan tidak terpenuhi, pasangan bisa diajak mencari jalan keluar. Ketika hubungan sudah tidak dapat dipertahankan, seseorang bisa mengakhirinya dengan jujur di pengadilan. Jalan yang lurus mungkin tidak selalu mudah, tetapi jalan itu tetap ada. Perselingkuhan terjadi ketika seseorang tahu ada jalan lurus, tetapi memilih untuk menyimpang.

Perselingkuhan juga sering kali bukan satu keputusan yang terjadi dalam satu malam. Ia biasanya dimulai dari hal-hal yang kelihatannya kecil: membalas pesan, melanjutkan obrolan, curhat-curhatan, mulai menggoda, menyimpan percakapan, menghapus jejak, bertemu diam-diam, lalu berbohong ketika ditanya pasangan. Di setiap tahap sebenarnya masih ada kesempatan untuk berhenti. Namun, kesempatan itu terus dilewati sampai batas yang semula jelas menjadi semakin kabur.

Tentu saja kondisi hubungan dan faktor psikologis tetap penting untuk dipahami. Seseorang mungkin lebih rentan berselingkuh karena ketidakpuasan dalam hubungan, kebutuhan akan perhatian dan validasi, keinginan mencari pengalaman baru, rendahnya pengendalian diri, atau karena adanya kesempatan dan kedekatan dengan orang lain, bahkan ada yang cuma iseng doang tapi keterusan. Semua itu membantu menjelaskan mengapa seseorang terdorong untuk berselingkuh. Merasa tertarik kepada orang lain bukan berarti harus menjalin hubungan dengannya. Merasa kesepian bukan berarti harus mencari pelarian. Memiliki kesempatan bukan berarti kesempatan itu harus diambil.

Karena itu, masalah dalam sebuah hubungan boleh jadi menjadi tanggung jawab kedua pihak untuk diselesaikan. Namun, keputusan untuk berselingkuh tetap menjadi tanggung jawab orang yang memilih melakukannya. Hubungan yang bermasalah bisa diperbaiki melalui komunikasi, perubahan sikap, konseling, atau, jika memang sudah tidak dapat dipertahankan, diakhiri saja. Masalah hubungan mungkin milik berdua, tetapi kebohongan, pesan rahasia, pertemuan diam-diam, dan pengkhianatan bukan tanggung jawab bersama. Selingkuh adalah pilihan pribadi.

Yang lebih tidak adil adalah ketika efek perselingkuhan justru dibebankan kepada orang yang dikhianati. Pasangan kemudian dibuat bertanya-tanya apakah dirinya kurang cantik/kurang ganteng, kurang perhatian, kurang romantis, kurang menarik, kurang melayani, atau terlalu sibuk. Seolah-olah jika semua kekurangan itu diperbaiki, perselingkuhan pasti tidak akan terjadi. Padahal, tidak ada manusia yang mampu menjadi pasangan yang sempurna setiap saat. Kesetiaan bukan hadiah karena pasangan telah memenuhi semua keinginan kita. Kesetiaan adalah keputusan untuk tetap menjaga batas ketika kesempatan untuk melanggarnya datang.

Dalam hubungan jangka panjang, ketidaksempurnaan adalah hal yang tidak terhindarkan. Ada masa ketika komunikasi memburuk, perhatian berkurang, pekerjaan menyita waktu, tubuh berubah, perasaan naik turun, dan hubungan terasa membosankan. Semua itu bagian dari kehidupan bersama. Hubungan yang harmonis bukan berarti tidak pernah menghadapi masalah, melainkan hubungan yang mampu menghadapi masalah tanpa menjadikan orang ketiga sebagai jalan keluar.

Orang yang berselingkuh juga belum tentu sudah tidak mencintai pasangannya. Seseorang bisa saja masih menyayangi pasangan, mencintai anak-anaknya, namun tetap memilih untuk berselingkuh. Justru di situlah letak persoalannya. Cinta saja ternyata tidak cukup untuk membuat seseorang setia. Kesetiaan membutuhkan pengendalian diri, kejujuran, batas yang jelas, integritas, dan keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

Karena itu, kita tidak perlu buru-buru mencari kambing hitam setiap kali seseorang berselingkuh. Pasangan mungkin punya kekurangan. Hubungan mungkin sedang bermasalah. Orang ketiga mungkin hadir pada waktu yang tepat. Keadaan mungkin membuka kesempatan. Semua itu bisa menjadi bagian dari cerita, tetapi tidak menghapus fakta bahwa seseorang tetap harus memilih. Ia memilih membalas pesan. Ia memilih melanjutkan kedekatan. Ia memilih menyembunyikan. Ia memilih berbohong. Ia memilih terus berjalan meskipun tahu dirinya sedang melewati batas.

Pada akhirnya, perselingkuhan bukan hanya tentang hadirnya orang ketiga. Perselingkuhan adalah tentang seseorang yang memiliki pilihan, tahu ada batas yang seharusnya dijaga, tetapi memilih untuk melompatinya. Ada jalan yang lurus dan ada jalan yang menyimpang. Tidak semua orang yang melihat jalan menyimpang akan mengambilnya. Yang mengambilnya adalah orang yang memilih untuk berjalan ke sana.

Mungkin inilah bagian yang paling pahit bagi orang yang dikhianati. Setelah mengetahui perselingkuhan, ia trauma dan bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun mempertanyakan dirinya sendiri: apa yang kurang, apa yang salah, mengapa saya tidak cukup, dan apa yang seharusnya dilakukan agar dia tidak mencari orang lain? 

Padahal, pilihan seseorang untuk berselingkuh bukan ukuran dari nilai dirinya sebagai pasangan. Kamu tidak harus menjadi sempurna agar layak mendapatkan kesetiaan. Dia berselingkuh bukan karena kamu gagal menjadi sempurna. Dia berselingkuh karena dia memilih untuk tidak setia.


-----------------------------------------

Tulisan ini dibuat dari kegelisahan melihat banyaknya pemberitaan tentang perselingkuhan yang beredar di media sosial, sekaligus berbagai kisah dan kejadian serupa yang terlihat dalam kehidupan nyata. 

Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan untuk mengajak melihat perselingkuhan dari sudut yang sederhana: bahwa di balik berbagai alasan dan keadaan, tetap ada pilihan yang dibuat oleh orang yang berselingkuh.


0 komentar

Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.
Mohon untuk tidak menyertakan link hidup, ya...
thanks,