Cita-Cita Haji Sebelum Umur 40 Tahun: Sebuah Cerita



Setiap orang mungkin memiliki cerita yang berbeda tentang bagaimana keinginan untuk berhaji tumbuh di dalam hatinya.
Ada yang sejak kecil sering diajak orang tuanya umrah. Ada yang terinspirasi setelah melihat orang-orang terdekat berangkat ke Tanah Suci. Ada pula yang baru memiliki keinginan berhaji ketika sudah dewasa dan telah memahami makna ibadah tersebut.
Saya?
Kalau ditanya sejak kapan saya ingin berhaji, jawabannya agak absurd. Yang jelas bukan sejak ada pelajaran manasik haji waktu TK.

Ceritanya berawal dari sebuah buku atlas.
Buku tebal berisi peta dan berbagai informasi tentang dunia yang dulu menjadi teman setia anak-anak sebelum internet hadir dan mengambil alih hampir seluruh rasa penasaran kita.

Waktu SD, saya senang sekali membuka-buka atlas. Entah kenapa, melihat peta rasanya seru. Saya bisa berlama-lama memperhatikan bentuk negara, nama ibu kota, gunung tertinggi, sungai terpanjang, hingga berbagai tempat terkenal di dunia.
Dari atlas itulah saya menemukan letak Ka'bah di Kota Makkah yang ternyata sangat jauh dari Indonesia.
Tentunya Ka'bah bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Saya sudah sering melihat gambarnya di televisi, di buku-buku pelajaran agama, di kalender, bahkan di sajadah merah jadul yang hampir ada di setiap rumah saat itu.
sajadah jadul yang legend

Saya juga tahu bahwa Ka'bah adalah kiblat umat Islam, pusat yang setiap hari kami hadapi saat salat.
Namun baru ketika melihat peta dunia di atlas, saya benar-benar baru menyadari betapa jauhnya tempat itu dari rumah saya. 
Mungkin terdengar lucu, tetapi saat itu saya membayangkan Indonesia dan Arab Saudi seperti dua ujung dunia yang terpisah sangat jauh.
Dan entah kenapa, sejak saat itu muncul sebuah keinginan sederhana di hati saya: "Suatu hari nanti, saya ingin pergi ke sana."
Padahal saat itu saya belum paham bener apa itu haji. Pengetahuan saya tentang haji masih sangat sederhana ala anak SD. 
Kadang sebuah cita-cita besar memang berawal dari pemahaman yang sangat sederhana. Sebuah gambar di atlas, rasa penasaran seorang anak kecil, dan keinginan untuk melihat langsung tempat yang selama ini hanya dilihat di gambar.

Kemudian saya mendengar cerita dari tante saya (adiknya bapak) yang berprofesi menjadi dokter, yang berangkat haji saat masih berusia tiga puluhan karena menjadi Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).Tidak lama kemudian saya mendengar cerita dari om saya (adiknya ibu) yang keadaan ekonominya cukup lumayan juga berhaji saat usianya sekitar tiga puluh delapan tahun. Cerita mereka terdengar seru banget.
Dua cerita itu membuat otak saya yang masih bocil nan penuh angan-angan langsung bekerja.
Saya ingin punya cita-cita yang sama: berhaji sebelum umur 40 tahun.

Masalahnya adalah saya nggak ngerti caranya gimana dan tentu saja saya tidak punya uang. Cuma punya uang jajan 100 rupiah/hari, buat jajan es kenyot sama krip-krip masih sisa 50 perak. hahaha
Namanya juga anak SD jaman dulu.
Tetapi begitulah cita-cita. Kadang datang jauh lebih dulu daripada kemampuan untuk mewujudkannya.

Saya bukan anak orang kaya yang hadiah ulang tahunnya adalah didaftarin haji sama bapak saya.
No..no..no.. 
Satu-satunya pilihan yang saya punya adalah mulai mengusahakan semuanya sendiri sejak dini.
Saat mulai beranjak SMP, saya sadar bahwa cita-cita berhaji tidak bisa hanya disiram dengan doa dan angan-angan. Perlu juga disiram dengan tabungan, meskipun jumlahnya masih sangat seuprit.
Saya pun mulai menghitung aset yang saya miliki. 😲
Tidak ada deposito.
Tidak ada saham.
Tidak ada bisnis yang sedang berkembang pesat.
Yang ada hanya... beberapa lembar angpau Lebaran yang isinya ya segitu doang.
Uang yang datang setahun sekali dan biasanya memiliki kemampuan luar biasa untuk menghilang dalam waktu yang sangat singkat. Kadang berubah menjadi semangkok bakso dan es jeruk, atau berbagai benda yang saat itu terasa jauh lebih penting daripada masa depan.
Alhamdulillah sebagian angpau berhasil diselamatkan ke dalam celengan ayam sebelum punah. Dari situlah saya mulai menabung sedikit demi sedikit untuk mewujudkan cita-cita berhaji yang saat itu masih tampak sangat jauh di ujung sana.

Ketika SMA, saya mulai membuka tabungan haji di bank.
Kalau dibayangkan, mungkin terdengar keren.
Seolah-olah saya langsung menyetor uang puluhan juta.
Padahal kenyataannya ya cuma secimit hasil penyelamatan angpau lebaran itu. hahaha
Kadang juga nyisihin uang saku yang sehari cuma 3.000 yang lebih sering habis buat jajan badak sambel di kantin sekolah.
Tetapi saya tetap menabung walau receh.
Karena saya sadar satu hal, bahwa orang yang menunggu punya uang banyak untuk mulai menabung biasanya justru tidak pernah mulai.
Sebaliknya, orang yang berani mulai dari sedikit sering kali terkejut melihat hasilnya beberapa tahun kemudian.

Tahun pertama menabung, cuma seuprit.
Tahun kedua, tentu m
asih jauh dari cukup. 
Tahun kelima.
Masih belum cukup.
Tahun kesepuluh. Tetep masih jauh dari cukup. ha..ha..
Kadang saya melihat tabungan itu dan berpikir: "Ya Allah, kapan penuhnya?" 😢
Tetapi tabungan itu tetap berjalan. Sedikit demi sedikit. Pelan-pelan banget.
  
Sampai akhirnya setelah hampir tiga belas tahun, terkumpullah 25 juta rupiah yang cukup untuk mendaftar haji reguler.
Kedengarannya lama sekali.
Tetapi kalau dipikir-pikir, tiga belas tahun tetap akan berlalu, mau saya menabung atau tidak.
Untungnya saya memilih untuk mulai melangkah.
Sebab di akhir tiga belas tahun itu, saya tidak hanya memiliki cerita tentang cita-cita berhaji, tetapi juga tabungan yang cukup untuk mendaftar haji.

Dari situlah saya memahami sebuah pelajaran sederhana.
Banyak orang ingin berhaji. Namun yang membuat seseorang semakin dekat ke Tanah Suci bukan sekedar niat dan doanya, melainkan langkah nyatanya.
Karena nomor porsi tidak bergerak saat kita berkata, "Saya ingin haji."
Nomor porsi mulai bergerak saat kita benar-benar sudah mendaftar.

Jangan hanya menabung, tetapi usahakan juga segera mendaftar ketika tabungan sudah memungkinkan untuk membayar setoran awal.
Sebab yang sedang kita kejar bukan hanya uangnya, tetapi juga waktunya.
Dalam urusan haji, waktu tunggu berjalan terus. Saat kita menunda mendaftar satu tahun, antrean tidak ikut menunggu kita.
Karena itu, menunda pendaftaran sering kali lebih mahal daripada yang terlihat. Bukan karena biaya hajinya, melainkan karena tahun-tahun yang terlewat tidak bisa dibeli kembali.Semakin cepat mendaftar, semakin cepat pula antrean mulai berjalan dan semakin cepat untuk berangkat.

Setiap orang memiliki jalan hidup, rezeki, dan waktunya masing-masing. 
Tentu tidak semua orang punya cita-cita berhaji sebelum umur 40 tahun seperti saya.
Jangan pernah menunggu sempurna untuk mulai mengusahakan haji.
Karena kesempurnaan itu sering kali tidak pernah datang.
Gaji naik, kebutuhan ikut naik.
Penghasilan bertambah, pengeluaran juga bertambah.
Bahkan terkadang harga barang naik, kebutuhan bertambah, tapi gaji tidak ikut naik.
Selalu ada alasan untuk menunda.
Sementara usia terus berjalan tanpa menunggu.
Kalau hari ini belum bisa menabung banyak, mulailah dari yang sedikit.
Kalau hari ini belum bisa langsung mendaftar, mulailah menyiapkan setoran awalnya.
Kalau setoroan awal belum cukup, setidaknya mulailah menabung walaupun receh.
Karena perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah pertama.

Satu hal yang selalu saya syukuri, cita-cita berhaji sebelum umur 40 itu tidak pernah benar-benar hilang walau saya masih jauh dari kata mampu.
Saya terus menjaganya, sambil melakukan apa yang bisa dilakukan pada saat itu. Tidak besar, tidak spektakuler, hanya langkah-langkah kecil yang diulang terus-menerus. Menyisihkan sedikit rezeki, menabung sedikit demi sedikit, lalu mengulanginya lagi dan lagi.

Dari perjalanan itulah saya belajar bahwa jalan menuju Baitullah tidak selalu dimulai dengan isi rekening yang gendut.
Sering kali, dimulai dari sebuah keinginan yang dijaga dengan sungguh-sungguh, lalu diikuti langkah kecil yang dilakukan hari ini.
Kemudian besok.
Lalu besoknya lagi.
Sampai suatu saat kita menoleh ke belakang dan menyadari bahwa jarak yang dulu terasa sangat jauh ternyata perlahan-lahan sudah terlampaui.
Dan mungkin banyak hal besar dalam hidup memang tumbuh dengan cara seperti ini. Dimulai dari mimpi yang sederhana, lalu dirawat cukup lama hingga akhirnya menemukan jalannya menjadi kenyataan.


Alhamdulillah.


0 komentar

Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.
Mohon untuk tidak menyertakan link hidup, ya...
thanks,