Ke Tanah Suci, Pilih Sibuk Ibadah atau Sibuk Belanja?

Ke Tanah Suci, Pilih Sibuk Ibadah atau Sibuk Belanja?

Sudah bukan rahasia umum kalau orang Indonesia itu terkenal suka belanja, kecuali saya. Mau di dalam ataupun di luar negeri pokokmen wong Indonesia kuwi terkenal seneng blonjo. 
Coba lihat berbagai jenis produk dari dalam atau luar negeri baik yang asli sampai yang kw abal-abal kompak mewarnai pasar Indonesia. Ajaibnya kabeh payu walaupun perekonomian Indonesia sedang meroket yang roketnya nyungsep ke empang. 
Memang orang Indonesia adalah target pasar yang potensial.
Coba lihat di berbagai tempat belanja di luar negeri. Bakul-bakule ki apal banget sama orang Indonesia. Sampe pada bisa Bahasa Indonesia meski terbatas hanya untuk jual beli saja, saking banyaknya orang Indonesia yang belanja. Sebut saja di kios oleh-oleh di Wat Arun Thailand, Grand Bazar di Turki, sampai kios oleh-oleh di reruntuhan St. Paul Macao. Entah kenopa orang Indonesia itu kok seneng banget belanja, mbuh kui untuk dirinya sendiri ataupun untuk oleh-oleh orang sekampung.






Fenomena ini terjadi juga di tanah suci.

Di sekitar Masjid Nabawi Madinah dan Masjidil Haram Mekah serta kota transit Jeddah banyak toko, mall, supermarket, warung, juga pasar yang terang benderang dan meriah. Produk yang dijual macam-macam, mulai dari barang dan makanan khas Arab, emas, sampai barang standar mall juga perkakas nggak penting yang murah-murah made in Cina. Herannya semua dijejali orang Indonesia yang berbelanja dengan gegap gempita.
Orang Indonesia pancen terkenal royal dalam berbelanja. Tak diragukan lagi. Sampai bakule iso Bahasa Indonesia dan dahsyatnya lagi mereka menerima pembayaran dengan mata uang Rupiah. Sungguh sebuah pelayanan yang prima dari para bakul di sana.


Setiap saya pergi ke tanah suci, saya selalu memperhatikan perilaku teman-teman serombongan saya, juga orang Indonesia lain yang saya temui. Rata-rata semuanya hampir sama: 
  1. Kebanyakan yang hobi belanja adalah wanita. 
  2. Setiap ada kesempatan meski dalam kesempitan, mereka selalu melipir belanja. Entah sepulang dari shalat 5 waktu di masjid ataupun saat kunjungan ke situs-situs sejarah. Terang-terangan ataupun ngumpet-ngumpet.
  3. Kalau belanja lama. Entah lama milihnya atau saking banyaknya barang yang dibeli. Sampai sering terlambat ke masjid untuk shalat.
  4. Terkadang sejak sebelum berangkat sudah 'bercita-cita' nanti di Saudi mau beli perhiasan karena konon kabarnya emas arab itu bagus.
  5. Selalu ada aja kejadian dimana yang lain sudah kumpul tepat waktu tapi ada sebiji dua biji yang masih nyangkut dan kedapatan lagi asyik belanja sampai lupa waktu dan bahkan lupa jalan pulang ke hotel atau lupa kembali ke titik kumpul. Ini akan menghambat jadwal yang sudah disusun oleh biro perjalanan dan tentu merugikan orang se-rombongan.
  6. Pas acara "kajian lepas ashar" jamaah wanita sebagian besar 'hilang' dan bisa dipastikan sedang berada di tempat belanja.
  7. Pembicaraan antar mereka nggak jauh-jauh dari barang belanjaan dan harga. "Saya dapet ini murah lho di toko sana", dan semacamnya. 
  8. Saling kepingin satu dengan lainnya. Misal, ada 1 dapet sajadah murah di salah satu toko, nanti dia bisa bawa yang lain ikutan belanja ke toko temuannya itu. Udah mirip MLM. Akhirnya yang tadinya nggak minat belanja sajadah jadi ikutan belanja juga. 
  9. Kadang ustadz lagi ngasih tausiah, mereka sibuk ngobrolin belanjaan. Akibatnya kalau ada info, mereka kagak ndengerin. Yang begini sering bikin kezel jamaah yang lain karena gengges.
  10. Barang bawaan overload. Itupun masih aja ada yang bilang belanjaannya kurang. "Si Anu dan Nganu belum dibelikan oleh-oleh", ujarnya. Sudahlah barang overload, mereka kadang nggak tanggung jawab bawa sendiri dan berakhir dengan ngerepotin orang lain. Belum lagi kalau tidak bisa terangkut bagasi pesawat karena nggak kuat bayar biaya kelebihan bagasi. Malah mubazir karena dibuang.

Baca juga: Pengalaman Umrah Bersama Segerombolan Nenek-Nenek


Saya jadi bertanya-tanya...
Jamaah (umrah/haji) Indonesia yang jumlahnya seabreg-abreg ini jan-jane pergi jauh-jauh  dan mahal-mahal ke tanah suci ki meh ibadah opo meh blonjo? Kok belanjane lebih gegap gempita daripada ibadahe.
Padahal hampir semua barang-barang yang dijual di sana sudah cukup mudah kita jumpai di Indonesia dengan harga yang terjangkau dan kebanyakan barang tersebut adalah made in Cina. 
Daripada bawa berat-berat dari Saudi lha mbok mending tuku nang pasar Tanah Abang. Barange podo, regane ra kacek, bawanya gampang (angkut sendiri deket, dikirim ekspedisi juga murah), serta turut mensejahterakan pedagang di negeri sendiri.

Ke Tanah Suci, Pilih Sibuk Ibadah atau Sibuk Belanja?

Alhamdulillah saya terlahir menjadi mbak-mbak yang tomboy dimana saya sangat benci pergi ke tempat belanja. Mbuh kenopo pokokmen saya nggak suka sama kegiatan yang bernama belanja ke tempat perbelanjaan.
Saya hanya sesekali ke supermarket Bin Dawood buat jajan jus, roti, atau mie instant. Itupun cuma sebentar banget selepas shalat Isya di masjid sembari lewat pulang ke hotel. Saya nggak betah lama-lama di toko apalagi pasar.
Jangankan di tanah suci, di negeri sendiri pun saya paling anti pergi ke pusat perbelanjaan kecuali sangat terpaksa sekali harus beli sesuatu yang tidak bisa dibeli secara online atau nitip teman.

Baca juga: Tips Menabung Untuk Naik Haji

Di tanah suci, saya jadi mikir...
Jauh-jauh pergi ke tanah suci dengan biaya yang tidak murah, niatnya untuk apa?
Benarkah murni untuk ibadah ataukan untuk berbelanja?
Jangan sampai niat kita geser walau sejengkal, dari ibadah menjadi belanja. Jangan sampai kita melakukan kegiatan yang merugi.


Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” 
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Bayangkan jika kita shalat 5 waktu berjamaah di Masjidil Haram & Masjid Nabawi selama perjalanan umrah atau haji kita, belum lagi ditambah shalat sunah lainnya. Lebih lagi jika waktu-waktu diantaranya kita pakai untuk mengaji. Pahalanya tentu sangat banyak sekali jika kita lakukan dengan niat yang lurus dan hati yang ikhlas.

Selama di tanah suci, ayo kita sibukkan diri ini dengan ibadah. Lebih baik kaki gempor karena thawaf keliling kakbah daripada keliling pusat perbelanjaan, lebih baik bibir kita basah karena berdzikir daripada basah karena sibuk menawar harga barang, lebih baik mata basah karena menangisi dosa-dosa daripada menangis karena sedih nggak dapet barang bagus dan murah di toko. Anggota badan yang kita gunakan untuk ibadah ini akan menjadi saksi yang meringankan hisab kita kelak di hari perhitungan.






Oh tenang, tentu saja kita tetap boleh kok berbelanja di tanah suci, utamanya untuk barang-barang yang memang khas. Tapi jangan sampai menggeser niat kita untuk beribadah dan jangan sampai mengganggu waktu-waktu ibadah kita. Belanjalah sewajarnya dan secukupnya. Sebaiknya sih selepas Isya sambil sekalian balik ke hotel. Karena selepas Isya waktunya lebih santai dan tetaplah ingat waktu karena kalau kemalaman nanti nggak bisa bangun qiyamul lail.


"Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar".

Baca juga: Cerita Umrah

Buat kalian di tanah air, yang punya saudara atau teman yang akan melakukan ibadah umrah atau haji, tolonglah jangan minta oleh-oleh. Jangan bebani mereka dengan pesanan oleh-oleh ini dan itu. 
Bantu mereka untuk tetap fokus dan meluruskan niat untuk beribadah. Cukup berikanlah doa yang tulus agar mereka sehat, selamat, dimudahkan dan dilancarkan dalam ibadah, serta pulang menjadi mabrur.


2 komentar

  1. kalau aku dulu memang belanja gak banyak , mungkin karena gak ada duitnya, he,he. memang kalau ke sana niatannya hrs ibadah ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. niat ibadah nggak boleh geser. belanja cuma selingan. hahahaha

      Delete

Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.
Mohon untuk tidak menyertakan link hidup, ya...
thanks,