Dua Kali Terjebak Tour de Singkarak

Dua Kali Terjebak Tour de Singkarak

"Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali.” Pepatah ini tentu sudah akrab sekali di telinga kita. Tapi berhubung saya bukan keledai, saya terjebaknya sama Tour de Singkarak, dua kali. Agak kerenan dikit lah ya dibanding keledai.


Pertama, tahun 2016 saya roadtrip keliling Sumatera Barat (Sumbar). Rencananya mau ngiterin Sumbar mulai dari Padang - danau kembar (danau di atas & danau di bawah) - Solok - Danau Singkarak - Lembah Anai - Padang Panjang - Ngarai Sianok - Bukittinggi - Danau Maninjau - Pariaman - Padang. Rencana sudah tersusun rapi, mau nginep di rumah neneknya kawan saya di tepian Danau Singkarak dan udah ngebayangin pagi-pagi berkabut buka jendela rumah lihat pemandangan danau sambil sarapan pake ikan bilih, ikan endemik Danau Singkarak. Opo nggak manteb tenan jal?!

Eeee lhadhalah qadarullah, alih-alih ketemu ikan bilih yang lagi renang di Danau Singkarak, baru sampai danau kembar mau capcus ke destinasi selanjutnya, saya dan pasukan harus balik kucing ke Padang. Padahal udah hampir setengah perjalanan.

Waktu itu polisi sudah mulai memblokir jalan yang mengarah ke Danau Singkarak karena rombongan sirkus Tour de Singkarak (TdS) mau lewat, tapi nggak jelas lewatnya kapan, berapa jam lagi, dan semacamnya. Informasinya serba nggak jelas pokoknya.
Sebelnya lagi, sampe hotel di Padang, hotel juga diblokir sama si nganu beserta dayang-dayang paspampresnya yang segambreng karena lagi ada kunjungan entah dalam rangka apa dan doi nginepnya di hotel tempat saya nginep, yang membuat saya harus ngaplo kele-kele di lobby dalam waktu yang lama karena semua harus disterilkan termasuk steril dari kuman-kuman yang terkutuk.
duh... gini amat yak nasib rakyat jelata 🙄.

Baca juga: Pengalaman Traveling ke Korea Saat Liburan Chuseok

Terus, jan-jane Tour de Singkarak (TdS) kui opo?
Adalah sebuah event balap sepeda kelas internasional yang diselenggarakan setiap tahun (sejak tahun 2009) di Sumatera Barat.

Tujuannya bagus, salah satunya buat promosi pariwisata Sumatera Barat. Klaimnya sih selama TdS 10 tahun, sudah berhasil meningkatkan kunjungan wisata ke Sumatera Barat dalam 4 tahun terakhir.
Meskipun banyak juga masyarakat Sumatera Barat yang bertanya-tanya, sebenernya masyarakat dapet apa sih dari TdS ini, soalnya mereka tidak merasa menerima manfaatnya. Nahlo... piye sih?
Tour de Singkarak 2018
rombongan Tour de Singkarak 2018
Tahun 2018 TdS memasuki ulang tahun ke-10, yang konon penanganannya sudah lebih profesional untuk taraf internasional. 
mosok se?

Kenyataannya adalah saya terjebak lagi sama doi. 
Kali ini posisi saya di Kabupaten Agam mau pergi ke Kota Padang karena mau ke kantor gubernur untuk sebuah pekerjaan. Saya mulai bergerak dari Agam sekitar jam 10-an setelah menyelesaikan pekerjaan sebelumnya. Pas mulai bergerak meninggalkan pusat Kabupaten Agam, saya udah mulai curiga nih. Soalnya jalanan kok sepi amat, trus banyak polisi betebaran di setiap pengkolan.


Dan kecurigaan saya pun benar, sodara!
Baru sekitar 45 menit perjalanan, mobil saya disetop polisi, disuruh minggir.
Driver saya nanya dong, ada apa nih?
Eh, polisinya cuma bilang ada TdS mau lewat.
Kapan?
Enggak tau! Polisinya kagak bise jawab.
Pokoknya kami disuruh diem aja di pinggir situ, tanpa kejelasan akan berapa lama pemblokiran jalan berlangsung, posisi rombongan pembalap ada di mana dan kapan mereka akan melewati tempat kami kecegat.
Polisine ki jan nggak punya informasi sama sekali, nggak bawa HT juga.
Driver saya sampai kesel banget, trus protes sama si polisi tengil itu: "Ini kalau mau ke bandara gimana (mengingat itu jalan satu-satunya dari Kabupaten Agam menuju bandara yang ada di Kabupaten Pariaman)? Kalau telat apa iya mau ngeganti tiketnya?"
Polisinya tetep diam tak bergeming.

Saya di dalem mobil udah mati gaya aja. Akhirnya keluar ke warung beli chiki sak kresek. Masuk mobil lagi, makan chiki, ngobrol ngalor ngidul, mau ngeblog sinyal internetnya jembret banget. Bosen wes pokoknya. Mau nunggu di luar mobil kok yo panas banget, sumuk to the max. Perut udah laper, sampai chiki sak-kresek itu habis, belum juga ada nongol tuh rombongan TdS lewat. Asem banget, kan?!
Banyak juga mobil-mobil dan motor-motor yang kecegat seperti saya. Bahkan buat nyeberang jalan aja nggak dibolehin, padahal yo belum ada tanda-tanda para pembalap itu mau lewat. Wes jan lebay banget og.
Tour de Singkarak 2018
beberapa pembalap sepeda peserta Tour de Singkarak 2018
Nyaris 2 jam saya terjebak di pinggir jalan nggak jelas, akhirnya lewat juga tuh rombongan TdS yang terdiri dari pembalap dan kroni-kroninya. Mereka lewat nggak sampai 10 menit, tapi udah mendzölimi orang segini banyak yang harus ketahan 2 jam tanpa kejelasan. 
Biasanya dari Kabupaten Agam ke Kota padang ditempuh dalam 3 jam, tapi gara-gara si Komo TdS lewat jadi 5 jam. Saya udah ngenes aja takut kantor gubernur keburu tutup, padahal besok paginya saya harus balik Jakarta. 

Lha mbok ya event kelas internesyenel yang seperti ini pelaksanaannya dikoordinasikan dengan baik antara panitia sama petugas di lapangan. Polisi yang tukang nyetopin itu dipakein HT (mosok yo polisi gak ndue HT 🙄) biar tau rombongan pembalap udah sampai mana dan kapan dia harus mensterilkan jalan. Nggak harus 2 jam sebelumnya juga kan, lha mosok pembalap masih di Padang jalanan di Pariaman sama Agam udah dikosongin, sementara nggak ada jalan alternatif, kan yo nganu banget to ya. 

sekian,

6 komentar

  1. Tenan iki ngenes e mbak...sing sabar yo.....moga gak kapok ya jalan-jalan ke kampung halaman saya

    ReplyDelete
    Replies

    1. alhamdulillah nggak kapok kalo ke Sumbar, tapi kapok kecegat Tour de Singkarak lagi. hihhhihi

      Delete
  2. Lek ning jakarta paling wes diklakson i ae yo.. hahhaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyo, diklaksoni karo dipisuhi wes. musuhe sopir-sopir kopaja sing ganas-ganas nek ning Jakarta. hahhhaha

      Delete
  3. wah bisa kejebak untuk ekdua kalinya, wah istimewa

    ReplyDelete
  4. huhuhu kesel juga ya mbak kejebak begitu

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar :)