Cerita Tentang Dress Code





Assalamu'alaikum, 

Halo, Sobat Rebahan yang budiman dan budiwati!

Pernah nggak sih kalian dapet undangan nikahan, syukuran, workshop, seminar, atau sekadar kumpul ngopi cantik tapi di pojok bawahnya ada tulisan kecil yang lebih horor dari tagihan pinjol: "Dress Code"?

Yang bikin makin deg-degan, itu tulisan biasanya kecil banget. Kayak sengaja disembunyiin biar kita baru sadar H-1 pas udah nyuci baju dan semua pilihan kita gagal total.
Jujur ya, di tengah kondisi ekonomi yang lagi "nyawit" alias nyari duit makin sulit ini, aturan dress code itu sungguh merepotkan.

Menurut penerawangan saya, ada 2 aliran besar dalam menghadapi drama Dress Code ini.

1. Wanita Abal-Abal (Mazhab Cuekisme) dengan ciri-ciri utama:
Tuna fashion akut: warna yang dikenal cuma dua—hitam dan bukan hitam.
Isi lemari konsisten: 80% hitam, 20% hitam yang sedikit pudar.
Model baju gitu-gitu doang dan bisanya bisa dipakai untuk berbagai suasana.  Kalau difoto di tiga acara beda, orang ngira itu hari yang sama, dan sialnya sering dikira nggak pernah ganti baju.

Bagi Wanita Abal-Abal seperti saya gini, dress code itu ya sekadar informasi nggak penting.
Kalau dapat undangan nggak akan ngaruh, karena ya gimana, bajunya cuma itu-itu doang. Mau dipaksa cocok juga susah, kecuali dress code-nya: “Hitam Bebas”. Nah itu baru cucok meong.
Wanita pada mahzab ini paling anti beli dan pakai baju yang nggak sesuai karakter dirinya. Mau beli baju baru demi acara dua jam? Sayang banget uangnya! Mending buat beli bakso atau buat daftar haji. Beli baju khusus dress code itu seringnya berakhir jadi "baju sekali pakai" yang ujung-ujungnya cuma jadi penghuni tetap lemari bawah, bersaing sama daster bolong favorit.

Kalau acaranya penting, biasanya akan tetap datang dengan penuh percaya diri (lebih tepatnya sih cuek bebek. ahahaha), walau jadi “outlier visual” di antara lautan tema dress code.
Kalau acaranya nggak terlalu penting maka akan memilih opsi paling realistis, yaitu turu. Karena tidur tidak butuh dress code.

Tambahan kemampuan khusus pada golongan ini adalah terlihat pede walau dianggap salah kostum.
Bisa menyatu secara sosial tanpa harus menyatu secara warna, karena nggak perlu validasi dari orang lain. Fokus utamanya di acara itu tetap: ngincar konsumsinya. ehehe

Baca juga: Ospek: Praktik Kebodohan yang Dilestarikan


2. Wanita Tulen (Mazhab Estetik & Validasi Sosial)

Berbeda dengan Wanita Abal-Abal, golongan ini akan mengalami fase dramatis saat membaca tulisan “Dress Code”.
Reaksi awal, biasanya akan bilang: “Aku nggak punya baju warna/model itu 😭.” Padahal isi lemarinya baju segala model dan warna numpuk kayak utang negara. Selebihnya mereka menggap hal ini adalah sebuah keseruan yang asyik.

Yang punya duit biasanya langsung beli. Cepat, tanggap, dan tanpa banyak pertimbangan. Meski dalam hati tahu… itu baju kemungkinan besar akan berakhir jadi koleksi. Dipakai sekali → difoto → di-upload → selesai atau cuma jadi kenangan: “pernah dipakai sekali di acara anu”.
Setelah itu? Pensiun dini di lemari, nunggu keajaiban yang tiada pernah datang.

Yang dompetnya nangis tapi tetap maksain demi bisa terlihat “menyatu”, “pantas”, dan “tidak berbeda sendiri di foto grup”.
Ini adalah perjuangan antara kebutuhan sosial vs kondisi finansial. Spoiler: dompetnya sering kalah telak. 

Yang tidak mampu membeli, biasanya akan minjam baju siapapun yang dikenalnya demi taat pada aturan dress code. atau nekat pakai baju yang seadanya dia punya, tapi perasaannya minder, sedih, kecewa, dan overthinking.
“Ntar aku kelihatan aneh nggak ya, beda sendiri?”
“Orang bakal ngomongin nggak ya?”
Padahal kenyataannya, orang lain juga lagi sibuk mikirin bajunya sendiri.


Baca juga: Berkunjung ke Kota Tua Al-Khalil Palestina

Lalu,
Kenapa sih mesti ada Dress Code?
Secara psikologis, dress code itu sebenarnya bertujuan untuk:
  • Menciptakan kesetaraan visual. Misalnya biar di foto kelihatan kompak, bukan kayak grup yang salah koordinasi atau biar kembaran mirip grup Nasidaria.
  • Membangun mood. Konon katanya warna tertentu bisa memengaruhi suasana.
  • Sebagai identitas acara. Biar jelas mana tamu, mana panitia, mana yang cuma numpang makan (eh).

Dress code
, antara idealisme & realita.
Pada akhirnya, dunia ini tidak hanya terdiri dari orang-orang yang punya lemari Pinterest-ready. Ada juga kaum realistis dengan lemari minimalis tapi hati maksimalis.
Mau ikut dress code? Silakan. Nggak bisa ikut? Juga nggak masalah.
Sekiranya ada teman yang nggak patuh pada dress code ya mohon kiranya jangan dihujat. Karena yang bikin acara itu berkesan bukan model dan warna baju yang seragam.

Jadi, buat para penyelenggara acara, tolonglah kasih dress code yang manusiawi dikit. Misalnya, "Dress Code: Apa aja, yang penting datang pakai baju."


Kalau kalian gimana, masuk ke tim mana?

0 komentar

Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.
Mohon untuk tidak menyertakan link hidup, ya...
thanks,