Pengalaman Naik Pesawat Terbang Pada Masa Pandemi Covid-19


 Ini cerita pengalaman saya melakukan perjalanan dengan pesawat terbang pada masa pandemi Covid-19.

Pengennya sih tetep #dirumahaja ya gengs, masa-masa pandemi kaya gini. Apalagi saya ini walaupun suka traveling tapi tergolong tim rebahan yang lebih suka di rumah sambil glundang-glundung.
Tapi apa daya, tugas negara memanggil. Mau nggak mau saya harus melakukan perjalanan ke luar kota - luar pulau dengan pesawat terbang.

Takut juga sih aslinya yah. Walaupun katanya sudah new-normal, tapi kalau lihat masyarakat sekitar kita, banyak yang salah faham dengan istilah new-normal. Mereka beranggapan bahwa korona sudah hilang dari muka bumi dan udah normal kaya biasanya. 
Yang ada kitanya udah ati-ati banget, tapi orang lain hewer-hewer cuek aja. Gemes kan, jadi pengen nggetok satu-satu....

Tapi saya mesti tetep kuat menghadapi ini semua. hahah
Persiapan maksimal dilakukan. Bawa cairan disinfektan, vitamin, hand-sanitizer, sabun, masker cadangan, dan alat perang lainnya. 
Ingat, ikhtiar harus maksimal dan jangan lupa berdoa!


Sebelum berangkat saya sudah rapid test dan hasilnya non reaktif. Walaupun Rapid test itu sangatlah tidak akurat, tapi penerbangan di Indonesia mensyaratkan itu. Baiklah.
Selain itu, saya instal aplikasi e-HAC Indonesia di henpon.

Di Bandara Soekarno-Hatta, situasi bandara jauh lebih sepi dibanding masa-masa sebelum adanya pandemi covid-19. Toko-toko banyak yang tutup dan banyak penerbangan yang dibatalkan keberangkatannya.
Sebelum masuk ke terminal keberangkatan kita diwajibkan untuk memferivikasi surat keterangan sehat (hasil rapid test non reaktif) pada petugas. Nanti surat tersebut akan distempel. Jadi mirip cop paspor kalau ke luar negeri.

Saya berangkat naik maskapan Citilink dengan tujuan Padang. Alhamdulillah kursi tengah dikosongkan, dan saat itu penumpangnya nggak full. Saya duduk paling belakang nggak ada orang lain yang duduk di sebelah saya, alias 1 baris kosong. Baris depan saya juga kosong. Sepanjang penerbangan saya tidur, supaya nggak kebanyakan gerak (pegang-pegang masker, tas, kursi, dll). Prinsip saya adalah jangan buka masker selama di dalam pesawat.

Sampai di Bandara Minangkabau, setiap penumpang harus sudah mengisi form di aplikasi e-HAC dan men-scan ke petugas saat akan keluar terminal kedatangan.
Yang perlu disiapkan untuk mengisi form e-HAC adalah nomor KTP, alamat tempat tujuan kita, nomor dan jam penerbangan, serta nomor kursi kita di pesawat.


Sesampainya di hotel, saya langsung mandi, semua pakaian yang saya pakai tadi  saya semprot dengan disinfektan dan masuk ke laundry bag. Tas juga saya semprot disinfektan. Jaket langsung saya cuci, karena bakalan saya pakai lagi pas pulangnya. Biar nggak rempong, saya pakai jaketnya yang enteng dan cepat kering kalau dicuci.

Selama di Padang, saya dapat info dari rekan kerja yang berangkat ke Padang naik maskapai dari Lion Group. Ada yang naik Lion ada yang naik Batik. Mereka semua bercerita bahwa penerbangannya full capacity dan tidak menerapkan social distancing. Waduh, ngeri juga kalo gini ceritanya. Mana saya pulangnya ke Jakarta naik Batik. Kan jadi parno. 

Sehari sebelum pulang, saya dapat info kalau penerbangan saya diundur jamnya. Saya jadi curiga... Ini pasti ada penggabungan 2 penerbangan jadi 1 supaya pesawatnya full capacity. Kelakuan maskapai dari Lion Group kan suka geje gitu.
Makin parno dong saya...

Sampailah saya di hari kepulangan. Di terminal keberangkatan Bandara Minangkabau situasinya rame banget dong. Macam nggak ada Covid gitu. Makin deg-degan saya, gimana kalau pesawatnya full capacity alias nggak ada social distancing seperti cerita teman saya?
Saya hanya bisa berdoa yang banyak.

Pas udah boarding, alhamdulillah pesawatnya nggak full capacity. Hanya beberapa seat saja yang isinya full 3 orang. Sisanya hanya berisi 2 orang alias tengahnya kosong, termasuk kursi di baris saya. Saya pun tidur sepanjang penerbangan.
Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, prosedur tetap sama. Harus mengisi dan men-scan e-HAC sebelum keluar terminal kedatangan.


Lain waktu saya terbang naik Garuda Indonesia. Alhamdulillah mereka menerapkan social distancing, kursi tengahnya dikosongkan.
Kesimpulannya, kalau mau naik pesawat lebih baik jangan naik maskapai dari Lion Group, karena seatnya full capacity, nggak ada social distancing. Bikin was-was sepanjang penerbangan.

Walaupun saya sudah 2 kali pp naik pesawat selama pandemi ini, saya tetap memilih #dirumahaja kalau nggak terpaksa banget karena pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan. Mudik pun saya memilih untuk naik mobil daripada naik pesawat, bus, atau kereta api. Meminimalisir kontak dengan orang banyak demi kesehatan diri sendiri. 
Karena kalau bukan diri kita sendiri yang menjaga, siapa lagi? 
Semoga kita semua selalu sehat dan dalam lindungan Allah.


Kalian gimana?
Ada yang pernah punya pengalaman naik pesawat semasa pandemi? Cerita dong...


6 komentar

  1. Aku belum pernah naik pesawat lagi selama pandemi ini. prosedurnya ternyata begitu ya kak. Semoga kita tetap sehat semua ya

    ReplyDelete
  2. Kemarin karena harus mudik ke pulau jawa, kita merasakan naik pesawat nih saat pandemi gini. Alhamdulillah pakai social distancing sih duduknya, meski pas turun dan naiknya sih nggak diawasin jaraknya gitu sama pramugarinya. Kemarin kita pakai maskapai garuda padhal

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, soalnya orang-orang kita pada kurang disiplin. semua pengennya duluan naik dan duluan turun, sampai lupa harus social distancing.
      padahal udah diumumin juga kalau masuk dan keluar harus sesuai dengan antrean nomor kursi.

      Delete
  3. Halo Mbak, mau tanya rapid nya mandiri di RS terdekat atau langsung di bandara nya ya? Dan satu kali rapid bisa berlaku untuk PP kan yaa? thank you

    ReplyDelete
    Replies
    1. hallo juga, saya rapidnya di poliklinik di kantor atau di rumah sakit yang dekat kantor mbak, sehari sebelum berangkat, karena buat jaga-jaga hasilnya. tapi kalau mau di bandara juga bisa, cuma harus spare waktu yang banyak. 1x rapit berlaku 14 hari untuk penerbangan, bisa dipakai PP selama rentang waktu 14 hari tersebut. walaupun secara medis tidak ada jaminan dalam 14 hari itu kita aman tidak terpapar covid-19 :( tetap patuhi protokol kesehatan, bawa "alat perang" yang lengkap, & jangan lupa berdoa.

      Delete

Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.
Mohon untuk tidak menyertakan link hidup, ya...
thanks,