Kuliah Online: Surga Kecil untuk yang Tak Suka Keramaian


Assalamu'alaikum!

Kata orang-orang, semakin dewasa, semakin paham batas diri.
Kalau saya, semakin dewasa, semakin sadar satu hal: energi saya terbatas dan nggak bisa diisi pakai charger biasa, melainkan harus pake charger dengan kekuatan megalomen.

Saya suka belajar, tapi nggak suka berkompetisi. Udah lama pengen kuliah lagi tapi setiap kali harus membayangkan kampus dengan segala hiruk pikuknya, rasanya pingin turu aja.

Di sinilah kisah saya dimulai.
Sebagai seorang mbak-mbak introvert, tentu saja bukan introvert estetik ala gen Z yang duduk di kafe sambil baca buku tebal dan kelihatan pinter. Saya introvert yang terlihat bloon, kalau udah sore pengen cepet pulang dari kantor, mandi, dan menghilang dari peradaban.

Sedari balita saya suka belajar, suka sekolah, suka pengetahuan baru, suka baca buku, suka ngerasa otak itu berputar dan terpakai. 
Masalahnya satu: saya nggak suka berkompetisi dan nggak sanggup lagi kuliah offline.

Setiap hari saya kerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore dengan segala drama di kantor yang membagongkan. Buat orang introvert, kerja 8 jam itu bukan cuma capek fisik, tapi capek sosial, capek mental, dan capek segalanya.
Biasanya setelah salat asar, kondisi baterai sosial saya tinggal 3%, otak udah lemot, susah banget buat mikir apalagi bersosialita. Rasanya udah gak sabar banget pengen pulang.
Nah, di kondisi seperti itu, bayangan pulang kerja harus berangkat ke kampus lagi, ketemu banyak orang, duduk di kelas yang rame, rasanya kok macam disuruh lari estafet padahal baru selesai marathon 25K.
Saya sering mikir, “Kenapa ya aku pengin kuliah, tapi tiap ngebayangin kampus rasanya malah pengen turu?”
Ternyata jawabannya sederhana: yang bikin berat itu keramaiannya, bukan bayar kuliahnya. ahahaha

Sebagai orang introvert, saya tidak anti manusia. Saya cuma punya batas, dan batas itu biasanya sudah expired sejak jam kerja di kantor selesai. Kalau dipaksa ketemu orang lagi, yang ada bukan makin pinter, tapi makin pengen pensiun dini.
Belum lagi ritual-ritual kampus offline: dosen bilang, “Kita diskusi kelompok ya”; disuruh maju ke depan dan kenalan satu-satu; harus aktif biar dianggap 'hidup'; serta momen “siapa yang mau menjawab?” (padahal semua menghindari kontak mata). Itu semua bikin energi saya langsung anjlog seketika kayak gerbong kereta api lewat rel karatan yang sekrupnya ilang.
Sampai akhirnya, setelah sekian lama, saya nemu sebuah kampus online. Rasanya kayak nemu tempat parkir kosong di mall pas weekend.
Awalnya saya ragu, takut kampus ini kampus abal-abal yang ya gitu deh. Atau kampus asli tapi bisa ngeluarin ijazah abal-abal. eh. 
Tapi ternyata… kampus ini bukan kampus abal-abal melainkan kampus serius yang MasyaAllah banget. InsyaAllah lulus dari sini ijazahnya pun asli. 
Kuliah online di IOU itu ramah introvert banget. Sangat. Teramat. 
Kuliah via zoom boleh off-cam. hahaha
Kalau kuliah online gini, gak ketahuan kalau saya nggak peduli dengan kompetisi perkara nilai dan IPK. Aman.

Bagi sebagian orang, kuliah online mungkin terasa sepi dan kurang seru.
Bagi saya, sepi itu justru bikin lebih produktif. Sunyi itu nyaman. Nggak harus ketemu banyak orang itu sebuah kenikmatan.

Jadi kalau kamu introvert, kerja dari pagi sampai sore, suka belajar tapi selalu kalah sama capek sosial?
Tenang. Kamu bukan malas. Kamu cuma belum nemu sistem yang ramah sama dirimu.

Dan buat saya pribadi, kuliah online itu sebuah surga kecil.
Tempat belajar tanpa drama, tanpa keramaian, dan tanpa harus pura-pura kuat.
Kalian mau kuliah samaan sama saya?
Boleh kepoin dulu atau langsung daftar melalui QR berikut:

Sekian.


0 komentar

Silakan tinggalkan komentar, tapi mohon maaf komentar saya moderasi karena banyaknya spam.
Mohon untuk tidak menyertakan link hidup, ya...
thanks,